Prabowo Mendadak Copot Purbaya, Ada Apa, Begini Perjalanan Kinerja Menkeu Dari 2025
Pelantikan Suahasil berlangsung di Istana Negara
Jakarta — Presiden Prabowo Subianto resmi mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan pada Senin, 14 September 2026. Posisi bendahara negara digantikan oleh Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara melalui Keputusan Presiden Nomor 97/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri Keuangan Kabinet Merah Putih untuk sisa masa jabatan 2024-2029.
Pelantikan Suahasil berlangsung di Istana Negara, Jakarta, dihadiri sejumlah menteri Kabinet Merah Putih. Suahasil mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Presiden Prabowo. Ia menjadi Menteri Keuangan ketiga di era Prabowo setelah Sri Mulyani Indrawati dan Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya menjabat Menteri Keuangan sejak 8 September 2025, menggantikan Sri Mulyani, atau sekitar satu tahun. Sebelumnya, ia menjabat Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Kelahiran Bogor, 7 Juli 1964, Purbaya berlatar belakang ekonom dan insinyur. Ia lulus Institut Teknologi Bandung, lalu meraih gelar master dan doktor di bidang ekonomi dari Purdue University, Amerika Serikat.
Pergantian ini termasuk mendadak. Purbaya dilaporkan meninggalkan ruang rapat di tengah sidang dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) usai mendapat kabar reshuffle. Pasar saham merespons dengan IHSG yang ditutup melemah tipis.
Capaian dan Kinerja Selama Menjabat
Meski masa jabatannya relatif singkat, Purbaya menorehkan sejumlah langkah dan capaian yang menjadi sorotan.
Pada awal masa tugas, ia menempatkan dana pemerintah sekitar Rp200 triliun ke bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Langkah ini bertujuan meningkatkan likuiditas perbankan dan mendorong penyaluran kredit. Sejumlah ekonom menyebut kebijakan tersebut sebagai “Purbaya Effect” yang membantu mendorong pertumbuhan kredit dan menyumbang pada pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025.
Purbaya juga aktif dalam upaya debottlenecking investasi melalui Satgas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi (Satgas P3-MPPE). Hingga pertengahan 2026, satgas tersebut diklaim berhasil menarik investasi senilai lebih dari US$30 miliar dan menyelesaikan puluhan hambatan perizinan.
Di bidang fiskal, ia menekankan pengendalian defisit dan penerimaan pajak. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,11 persen, dengan defisit APBN sekitar 2,8 persen terhadap PDB. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,85 persen (Agustus 2025) dan kemiskinan menurun menjadi 8,25 persen (September 2025). Pemerintah juga menyalurkan paket stimulus bertahap senilai total Rp110,7 triliun untuk menjaga daya beli dan mendukung UMKM.
Purbaya kerap menyoroti praktik under-invoicing dan penghindaran pajak. Ia pernah mencopot dua pejabat tinggi Kementerian Keuangan terkait persoalan restitusi pajak yang membengkak. Ia juga menolak tawaran pinjaman dari IMF dan Bank Dunia senilai puluhan miliar dolar AS, dengan alasan Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang cukup.
Dalam berbagai kesempatan, Purbaya mengklaim perekonomian mulai berbalik arah menuju pertumbuhan mendekati 6 persen. Ia menekankan bauran kebijakan fiskal dan moneter yang relatif murah, termasuk pemindahan dana dari Bank Indonesia ke perbankan untuk menambah likuiditas tanpa beban besar bagi negara.
Gaya komunikasi Purbaya yang lugas dan blak-blakan menjadi ciri khas. Ia tidak segan menyampaikan kritik terhadap praktik di jajaran pajak dan bea cukai, serta menekankan pentingnya optimisme dalam kebijakan ekonomi. Prabowo sebelumnya pernah menyebut Purbaya sebagai sosok yang optimis dan “bullish”, sesuai kebutuhan kabinetnya.
Latar Belakang dan Konteks Pergantian
Purbaya dilantik pada September 2025 sebagai bagian dari perombakan kabinet yang menandai pergeseran pendekatan fiskal yang lebih pro-pertumbuhan. Selama menjabat, ia menghadapi tantangan berupa ketidakpastian global, tekanan terhadap rupiah di beberapa periode, serta spekulasi pasar dan lembaga pemeringkat terkait arah kebijakan fiskal.
Beberapa kontroversi juga muncul, termasuk isu terkait transfer dana dari sovereign wealth fund Danantara dan berbagai rumor pengunduran diri yang sebelumnya dibantah. Harta kekayaannya tercatat meningkat selama masa jabatannya berdasarkan laporan LHKPN.
Pengangkatan Suahasil Nazara, yang telah lama menjadi Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan dikenal sebagai teknokrat berpengalaman di bidang fiskal dan anggaran, dinilai sebagai langkah untuk menjaga kontinuitas sekaligus memberikan stabilitas di Kementerian Keuangan.
Hingga saat ini, Istana belum memberikan penjelasan rinci mengenai alasan spesifik pencopotan Purbaya. Pergantian ini menjadi bagian dari rangkaian reshuffle Kabinet Merah Putih di bawah Presiden Prabowo.
Dengan berakhirnya masa jabatan Purbaya, perhatian publik kini beralih ke arah kebijakan fiskal yang akan diambil Suahasil Nazara, khususnya dalam menjaga stabilitas makroekonomi, penerimaan negara, dan dukungan terhadap program prioritas pemerintahan.
(Red/Videy)