Anak Krakatau Semburkan Lava Air Mancur Semalaman, Dentuman Terdengar hingga Bandung! PVMBG Pastikan TAK Berpotensi Tsunami
“Hasil pemantauan kami menunjukkan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 22
Jakarta – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aksi dramatis. Sejak Jumat malam (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9/2026) pagi, gunung api ini mengalami erupsi menerus yang menghasilkan fenomena lava fountain (air mancur lava) berwarna merah menyala, disertai suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga wilayah Banten, Lampung, bahkan Jawa Barat termasuk Bandung.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan status Gunung Anak Krakatau masih Level III (Siaga).
Masyarakat dan wisatawan dilarang keras beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Apa yang Terjadi?
Menurut laporan resmi Badan Geologi, erupsi menerus berlangsung hingga minimal pukul 04.40 WIB Sabtu pagi.
Tinggi kolom erupsi tidak teramati karena cuaca, namun semburan merah menyala terlihat jelas secara terus-menerus.
Fenomena ini diinterpretasikan sebagai lava fountain yang menghasilkan aliran lava.
Beberapa erupsi tercatat sejak Jumat dini hari, dengan setidaknya 10 kali letusan dalam 24 jam terakhir.
Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan warga di sejumlah daerah diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi ini.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Rita Susilawati dalam konferensi pers daring Sabtu (5/9/2026) menegaskan:
“Hasil pemantauan kami menunjukkan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.”
Ia menambahkan bahwa aktivitas saat ini masih dalam tipe Strombolian biasa dan tidak memerlukan kenaikan status atau perluasan radius bahaya
.
Status Sejak Juli 2026
Gunung Anak Krakatau dinaikkan statusnya dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026 setelah aktivitas meningkat.
Sejak saat itu, erupsi Strombolian berskala rendah terus terjadi secara fluktuatif.
Fase pertumbuhan kembali tubuh gunung pasca-tsunami 2018 masih berlangsung, namun hingga saat ini volume yang terbentuk belum cukup besar untuk menimbulkan risiko longsor besar seperti 2018.
Pemantauan intensif dilakukan 24 jam dari dua pos pengamatan utama: Pos PGA Pasauran (Banten) dan Pos PGA Kalianda (Lampung Selatan).
Imbauan Resmi PVMBG & BNPB
- Masyarakat, wisatawan, nelayan, dan pendaki dilarang memasuki radius 3 km dari pusat aktivitas.
- Waspadai aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, dan hujan abu.
- Jangan mendekati kawasan hanya untuk berfoto atau membuat konten.
- Pantau informasi resmi melalui Magma Indonesia, Badan Geologi, BPBD setempat, dan BNPB.
- Warga pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak panik.
BNPB juga mengimbau agar zona bahaya disterilkan dan jalur evakuasi tetap disiapkan sebagai langkah kewaspadaan.
Catatan Sejarah
Gunung Anak Krakatau muncul pada 1927 dari sisa-sisa letusan dahsyat Krakatau 1883. Tsunami 22 Desember 2018 yang dipicu longsoran tubuh gunung masih menjadi trauma bagi warga pesisir.
Karena itu, setiap aktivitas gunung ini selalu menjadi perhatian nasional.
Hingga Sabtu siang, erupsi masih dipantau secara intensif. Badan Geologi menegaskan situasi terkendali dan tidak ada indikasi ancaman tsunami saat ini.
Ikuti perkembangan terbaru hanya dari sumber resmi. Jangan sebar berita yang belum diverifikasi.