Jakarta Sukses
Terkini
Nasional

ICTB 2026: SEAMEO BIOTROP Perkuat Kolaborasi Sains dan Pembangunan Berkelanjutan

Oleh Redaksi · 05 October 2026, 14:10 WIB
Bagikan:
ICTB 2026: SEAMEO BIOTROP Perkuat Kolaborasi Sains dan Pembangunan Berkelanjutan

Selanjutnya, ICTB 3 pada 20–21 September 2018 memperluas cakupan diskusi pada keanekaragaman hayati tropika, keberlanjutan lingkungan, serta penerapan ilmu pengetahuan dalam menghadapi tantangan lingkungan yang terus berkembang. Memasuki penyelenggaraan keempa

Advertisement

Vid30s, Bogor - Komitmen SEAMEO BIOTROP Perkuat Ekosistem dan Pembangunan Berkelanjutan melalui The 5th International Conference on Tropical Biology BOGOR, 5 OKTOBER 2026 – Mempertegas peran strategisnya sebagai pusat keunggulan biologi tropika di Asia Tenggara, SEAMEO Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) resmi membuka The 5th International Conference on Tropical Biology (ICTB 2026) di IPB International Convention Center (IICC), Bogor. 

Mengusung tema “Biodiversity Beyond Boundaries: Advancing Global Education, Bioscience, and Sustainable Landscapes”, konferensi internasional ini mempertemukan para ilmuwan, pendidik, pembuat kebijakan, praktisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk memperkuat kolaborasi  serta  mendorong  solusi  nyata  bagi  pelestarian  keanekaragaman  hayati  dan pembangunan berkelanjutan. 

Perjalanan ICTB: Lebih dari Satu Dekade Membangun Kolaborasi ICTB merupakan salah satu platform internasional yang dikembangkan SEAMEO BIOTROP untuk mempertemukan ilmuwan dan praktisi dalam berbagi hasil penelitian serta memperkuat jejaring dan kolaborasi di bidang biologi tropika dan keanekaragaman hayati. The 1st International Conference on Tropical Biology (ICTB 1) diselenggarakan di Bogor pada 3–5 Oktober 2013, menandai dimulainya platform konferensi internasional SEAMEO BIOTROP. 

Forum ini  menjadi  ruang  bagi  para  ilmuwan  dan  praktisi  untuk  berbagi  temuan  penelitian  serta memperkuat kerja sama di bidang biologi tropika dan keanekaragaman hayati. Perjalanan tersebut dilanjutkan melalui ICTB 2 di Bogor pada 12–13 Oktober 2015, yang semakin memperkuat ICTB sebagai wadah pertukaran pengetahuan dan jejaring ilmiah internasional.

Selanjutnya,  ICTB  3  pada  20–21  September  2018  memperluas  cakupan  diskusi  pada keanekaragaman hayati tropika, keberlanjutan lingkungan, serta penerapan ilmu pengetahuan dalam menghadapi tantangan lingkungan yang terus berkembang.

Memasuki penyelenggaraan keempat, ICTB 4 yang berlangsung di Bogor pada 25–26 Oktober 2023  semakin  memperkuat  posisi  ICTB  sebagai  forum  multidisiplin  yang  menghubungkan penelitian ilmiah, pendidikan, pengelolaan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. Setelah  membangun  pengalaman,  jejaring,  dan  kolaborasi  melalui  empat  penyelenggaraan sebelumnya, SEAMEO BIOTROP kini menghadirkan ICTB 2026 sebagai penyelenggaraan kelima pada 5–7 Oktober 2026 di Bogor, Indonesia. 

Edisi kelima ini menjadi bagian dari evolusi ICTB menuju platform yang semakin terintegrasi, dengan menghubungkan sains, pendidikan, inovasi, kebijakan,  dan  aksi  masyarakat  dalam  menghadapi  tantangan  keanekaragaman  hayati  dan lingkungan yang semakin kompleks.

51 Abstrak dari Lima Negara ICTB 2026 menerima 51 abstrak/paper yang dipresentasikan dalam dua kategori, yaitu  oral presentation dan poster presentation. Dari keseluruhan abstrak tersebut, 43 abstrak dipresentasikan melalui sesi oral presentation, terdiri  atas  19  presentasi  online  dan  24  presentasi  offline.  

Sementara  itu,  8  abstrak dipresentasikan  dalam  kategori  poster  presentation,  terdiri  atas  1  presentasi  online  dan  7 presentasi offline. Kontribusi ilmiah tersebut berasal dari lima negara, yaitu Indonesia, Filipina, Timor-Leste, Malaysia, dan Algeria. 

Empat Subtema untuk Menjawab Tantangan Keanekaragaman Hayati Dengan tema “Biodiversity Beyond Boundaries: Advancing Global Education, Bioscience, and Sustainable Landscapes”, ICTB 2026 menekankan bahwa tantangan keanekaragaman hayati tidak dapat diselesaikan melalui satu disiplin ilmu atau satu sektor saja. Diperlukan kolaborasi antara ilmuwan,  lembaga  pendidikan,  pemerintah,  dunia  usaha,  masyarakat  lokal,  dan  mitra internasional. 

Untuk itu, ICTB 2026 menghadirkan empat subtema yang saling terhubung, yaitu Biodiversity Education  through  Geoparks,  National  Parks,  and  Landscape-Based  Learning  Systems,  Sustainable  Management  of  Sub-optimal  Lands  and  Post-Mining  Landscapes;  Nature-Based Livelihoods; Biotechnology for Biodiversity, Environment, and Climate Change. Perkuat Kolaborasi Sains, Pendidikan, dan Kebijakan Acara pembukaan ICTB 2026 dihadiri oleh perwakilan perguruan tinggi, lembaga penelitian, sekolah alumni pelatihan BIOTROP, instansi pemerintah, praktisi, serta pemangku kebijakan.

 Kegiatan dibuka oleh Staf Ahli Bidang Teknologi Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Ir. Moch. Abduh, MS.Ed., PhD, yang hadir mewakili Menteri Pendidikan  Dasar  dan  Menengah  RI.  Pembukaan  turut  dihadiri  oleh  Deputy  Director  for Programme  and  Development  at  the  SEAMEO Secretariat,  Prof.  Dr.  Edi  Santosa,  Rektor  IPB University sekaligus perwakilan Dewan Pembina (Governing Board Member) BIOTROP Dr. Alim Setiawan, Dr. Indra Maha, S.T., M.T. selaku Staf Ahli Gubernur Jawa Barat Bidang Ekonomi dan Pembangunan yang mewakili Gubernur Jawa Barat, serta Wali Kota Bogor Drs. Dedie Abdul Rachim, M.A. Dalam sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI oleh Ir. Moch. Abduh, MS.Ed., PhD, ditekankan pentingnya peran sentral pendidikan dalam melestarikan keanekaragaman hayati tropis di tengah ancaman deforestasi, alih fungsi lahan, dan krisis iklim.

“Pendidikan keanekaragaman hayati tidak boleh sekadar menghafal spesies atau teori ekologi dari buku teks. Bentang alam kita harus menjadi ruang kelas, hutan kita menjadi laboratorium hidup, sungai  menjadi  sarana  belajar,  dan  masyarakat  menjadi  sumber  pengetahuan.  Guru  adalah penggerak  utama  transformasi  ini  untuk  menumbuhkan  nalar  kritis,  rasa  ingin  tahu,  dan kepedulian lingkungan generasi muda.” 

Dalam kegiatan ini juga secara resmi diluncurkan PROTIBAGURU (Program Praktik Baik Guru Berkelanjutan) program untuk penguatan kapasitas pendidik dalam mengintegrasikan literasi lingkungan, STEM, dan bioteknologi ke dalam kurikulum pembelajaran. 

Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof. Dr. Edi Santosa, menyampaikan bahwa ICTB 2026 dirancang sebagai wadah terpadu untuk menerjemahkan riset sains menjadi kebijakan terarah, teknologi tepat guna, serta solusi langsung bagi masyarakat. 

“Tantangan  yang  dihadapi  ekosistem  tropika  saat  ini  saling  terkait  dan  semakin  kompleks. Pendekatan solusinya pun harus terintegrasi—menghubungkan sains modern dengan kearifan lokal masyarakat adat. Melalui konferensi ini, kami ingin mempertemukan ide, memperluas kolaborasi riset, serta menyiapkan peneliti muda dan mahasiswa sebagai penerus masa depan konservasi.”

Senada dengan hal tersebut, Deputi Direktur Program SEAMEO Secretariat, Mr John Arnold Siena menyambut baik komitmen regional yang dibangun dalam konferensi ini. Beliau menekankan bahwa kemitraan lintas batas di Asia Tenggara menjadi kunci strategis dalam merespons krisis keanekaragaman hayati secara kolektif.

Sementara itu, Rektor IPB University Dr. Alim Setiawan dan Wali Kota Bogor Drs. Dedie Abdul Rachim menyatakan kebanggaannya atas dipilihnya Kota Bogor sebagai pusat pertemuan saintifik dunia yang menjembatani sains, inovasi, dan masyarakat. 

Penyelenggaraan  ICTB  2026  yang  berlangsung  pada  5–7  Oktober  2026  turut  menghadirkan keynote speech dari Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, pameran inovasi keanekaragaman hayati, serta tinjauan lapangan ke Kebun Raya Bogor dan laboratorium hidup Kampus SEAMEO BIOTROP. Melalui ICTB 2026, SEAMEO BIOTROP kembali menegaskan komitmennya untuk membangun jembatan antara penelitian dan penerapannya di lapangan. 

Forum ini diharapkan menghasilkan jejaring kolaborasi, pertukaran pengetahuan, rekomendasi kebijakan (policy brief), serta aksi nyata untuk mendukung terwujudnya kawasan tropis yang tangguh, lestari, dan berdaya saing global.

(Red/Ard).

↑