Jakarta Sukses
Terkini
Aglomerasi

Hingga dini hari, alat berat terus bergerak, air terus disemprotkan, dan manusia terus bertahan. Bukan karena mudah

Oleh Redaksi · 11 September 2026, 08:09 WIB
Bagikan:
Hingga dini hari, alat berat terus bergerak, air terus disemprotkan, dan manusia terus bertahan. Bukan karena mudah

Hingga dini hari, alat berat terus bergerak, air terus disemprotkan, dan manusia terus bertahan. Bukan karena mudah

Advertisement

Vid30s, Kabupaten Bogor - Malam kelima. Asap masih menyelimuti langit di atas Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Kecamatan Cibungbulang. Namun di balik kabut yang menyengat itu, ada nyala yang jauh lebih kuat: nyala solidaritas.

Pemerintah Kota Bogor terus mengintensifkan penanganan kebakaran yang sudah berlangsung berhari-hari di lahan TPAS milik Pemkot maupun Pemkab Bogor. 

Hingga dini hari, alat berat terus bergerak, air terus disemprotkan, dan manusia terus bertahan. Bukan karena mudah. Justru karena sulit.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim berdiri di tengah situasi yang dia sebut “ibarat sekam”. Dari luar, titik api tampak redup. Begitu digali, bara api masih hidup di dalam tumpukan sampah yang sudah menumpuk bertahun-tahun.

“Titik kemajuannya sudah terlihat. Tapi api di tempat pembuangan akhir ini memang seperti sekam. Kelihatan dari luar tidak ada. Begitu digali, muncul lagi,” ujar Dedie Jumat dini hari.

Karakter lahan mirip gambut. Sampah yang sudah mengeras seperti briket menyimpan kalori tinggi. Musim kemarau panjang membuat air jadi langka. Akses di beberapa titik sulit. Angin bisa sewaktu-waktu memperbesar api. Tantangan berlapis.

Namun yang terlihat di lapangan bukan hanya kesulitan. Yang terlihat adalah seluruh potensi digabung: unsur Pemkot Bogor, Pemkab Bogor, TNI-Polri, relawan, hingga masyarakat. Alat berat membongkar tumpukan. Penyemprotan terus dilakukan. Water bombing dari udara tetap diupayakan lewat koordinasi dengan Lanud ATS. Metode darat dan udara dijalankan bersamaan.

Dedie bersama Wakil Wali Kota Jenal Mutaqin, Sekda Denny Mulyadi, Kepala DLH Rudy Mashudi, Kepala Dinas Damkar Agung, serta Kalak BPBD Dimas Tiko bertemu langsung dengan Bupati Bogor Rudy Susmanto dan jajaran. Mereka memastikan satu hal: proses pemadaman harus intensif dan bertahap. Bongkar, siram, bongkar lagi, siram lagi. Tidak ada jalan pintas.

“Hampir semua unsur sudah dilibatkan. Alhamdulillah bantuannya membuahkan hasil. Hanya belum 100 persen,” kata Dedie.

Bahkan waktu kerja disesuaikan dengan kehidupan warga. Tim berhenti sekitar pukul 02.00–03.00 dini hari agar suplai air untuk masyarakat tidak terganggu. Karena di balik upaya memadamkan api, ada juga kepedulian agar warga tetap bisa memasak, mandi, dan menjalani hari.

Ini bukan sekadar berita kebakaran. Ini kisah tentang ketekunan yang tidak menyerah pada kondisi. Tentang pejabat yang turun langsung, relawan yang tidak kenal lelah, dan masyarakat yang turut merasakan. Tentang pemahaman bahwa api di TPAS Galuga bukan hanya urusan satu pemerintah daerah, melainkan tanggung jawab bersama.

Proses masih panjang. Bara masih ada di bawah. Tapi setiap gali yang berhasil dipadamkan, setiap kanal yang digali, setiap water bombing yang diluncurkan, adalah langkah kecil menuju harapan yang lebih besar: lingkungan yang lebih aman, udara yang lebih bersih, dan rasa aman yang kembali dirasakan warga.

Di tengah asap yang belum sepenuhnya hilang, Bogor memilih untuk tidak menyerah. Karena di balik api yang sulit dipadamkan, ada semangat yang jauh lebih sulit dipadamkan: semangat gotong royong yang terus menyala.

(Red/Dev)

↑