Jakarta Sukses
Terkini
Nasional

Hari Ini Anak Krakatau Erupsi Menerus, Mengingatkan Letusan Dahsyat Krakatau 1883 yang Tewaskan Lebih dari 36.000 Orang

Oleh Redaksi · 06 September 2026, 04:17 WIB
Bagikan:
Hari Ini Anak Krakatau Erupsi Menerus, Mengingatkan Letusan Dahsyat Krakatau 1883 yang Tewaskan Lebih dari 36.000 Orang

suara dentuman dan gemuruh yang terdengar hingga wilayah Banten, Lampung, dan bahkan sebagian Jawa Barat. Pusat

Advertisement

Vid30s, Lampung - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas tinggi. Sejak Jumat malam (4 September 2026) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu dini hari dan berlanjut, gunung ini mengalami erupsi menerus yang menghasilkan fenomena lava fountain atau air mancur lava berwarna merah menyala, disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar hingga wilayah Banten, Lampung, dan bahkan sebagian Jawa Barat.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mencatat erupsi ini sebagai yang intensitasnya tertinggi sepanjang 2026. Satu gempa letusan tercatat dengan amplitudo hingga 70 mm dan durasi sangat panjang. Status gunung tetap di Level III (Siaga). Masyarakat, wisatawan, dan nelayan dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah. PVMBG menegaskan pertumbuhan tubuh gunung pasca-runtuhan 2018 masih relatif kecil sehingga belum berpotensi memicu tsunami seperti yang terjadi pada Desember 2018.

Aktivitas terkini ini langsung mengingatkan dunia pada peristiwa legendaris yang terjadi 143 tahun lalu di lokasi yang sama.

Letusan Krakatau 1883: Bencana Paling Mematikan dalam Sejarah Modern

Pada 26 Agustus 1883, tepatnya pukul 12.53, letusan dahsyat dimulai dari Perboewatan, pulau paling utara di Kepulauan Krakatau. Awan panas dan material vulkanik membumbung hingga 24 km. Aktivitas yang sudah berlangsung sejak Mei semakin intens, mencapai puncaknya pada Senin, 27 Agustus 1883, dengan empat letusan raksasa di pagi hari.

Letusan itu tercatat sebagai yang terkuat dalam sejarah modern dengan skala Volcanic Explosivity Index (VEI) 6. Suaranya terdengar hingga Perth, Australia (sekitar 4.500 km jauhnya). Dua puncak utama, Perboewatan dan Danan, tenggelam ke dalam kaldera bawah laut. Lebih dari 36.000 orang tewas (catatan lain menyebut minimal 36.417 orang meninggal dan hilang). Mayoritas korban tewas akibat tsunami setinggi hingga 41 meter yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatera, serta luka bakar dari aliran piroklastik.

Tsunami tersebut menjadi salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah yang tercatat hingga awal abad ke-21. Material letusan juga menyebar ke atmosfer, menyebabkan penurunan suhu global dan gangguan iklim selama beberapa tahun.

Penyebab: Pertemuan Lempeng Tektonik

Letusan Krakatau 1883 dipicu oleh pergerakan lempeng tektonik di zona subduksi. Lempeng Indo-Australia yang lebih berat menunjam di bawah lempeng Asia (Sumatera). Batuan yang turun memanas, mencair menjadi magma, lalu naik melalui saluran menuju permukaan. Pada 1883, tiga puncak Krakatau menjadi jalur keluar magma. Puing dari aktivitas sebelumnya menyumbat leher kerucut, membangun tekanan ekstrem hingga meledak.

Ketika ruang magma terbuka dan gunung mulai runtuh, air laut yang bersentuhan dengan material panas menciptakan ledakan uap eksplosif. Aliran material mencapai jarak puluhan kilometer dengan kecepatan tinggi.

Dari Krakatau ke Anak Krakatau

Setelah letusan 1883 menghancurkan sebagian besar pulau, aktivitas vulkanik kembali muncul di dasar laut. Pada 1927–1930, muncul pulau baru yang kemudian dinamai Anak Krakatau (“Anak Krakatau”). Sejak itu gunung ini terus tumbuh dan aktif secara berkala, termasuk erupsi besar yang memicu tsunami pada 2018.

Aktivitas hari-hari terakhir ini menjadi pengingat bahwa sistem vulkanik di Selat Sunda tetap dinamis. Meski skala erupsi saat ini jauh lebih kecil dibanding 1883, kewaspadaan tetap diperlukan.

PVMBG terus memantau melalui pos di Pasauran (Banten) dan Kalianda (Lampung). Masyarakat diimbau tetap tenang, mematuhi radius aman 3 km, dan mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi serta BPBD setempat. Jangan terpancing berita yang tidak terverifikasi.

Sejarah Krakatau 1883 mengajarkan satu pelajaran abadi: kekuatan alam di Indonesia bisa sangat dahsyat, namun dengan pemantauan modern dan kesiapsiagaan, dampaknya dapat diminimalisasi.

(Red/Videy)

↑